Manfaat Facebook Berdasarkan Penelitian - Tekno Match

    Social Items

Facebook merupakan situs jejaringan sosial paling populer di dunia. Banyak sekali manfaat facebook jika Anda menggunakannya. Namun manfaat tersebut kebanyakannya adalah manfaat berdasarkan penilaian subjektif dan tidak berdasarkan penelitian.

Manfaat Facebook Berdasarkan Penelitian

Nah berikut ini beberapa hasil penelitian yang dipublikasikan tentang manfaat facebook yang dikutip dari Kompasiana.com.

1. Menurunkan Tingkat Stress


Peneliti : Institute of Human, Language and Environmental Sciences, IULM University, Milan, Italy. Brain and Cognitive Sciences Department, Massachusetts Institute of Technology, Cambridge, Massachusetts. Applied Technology for Neuro-Psychology Lab, Istituto Auxologico Italiano-IRCCS, Milano, Italy. Dipartimento di Psicologia, Università Cattolica del Sacro Cuore, Milano, Italy.

Dalam beberapa kasus memang ada yang mengaku ngalamin stress selama menggunakan Facebook, namun penelitian ini menunjukan bahwa mereka yang menghabiskan waktu menggunakan Facebook dapat membantu dirinya untuk rileks dan menurunkan tingkat stress.

Menurut para peneliti dari Massachusetts Institute of Technology dan University of Milan, selama mempelajari 30 siswa, peneliti menemukan bahwa keadaan alami yang mereka rasakan selama menggunakan jejaring sosial dapat membuat mereka santai dan menurunkan kadar stres dan ketegangan.

Dalam studi tersebut, para siswa dipantau dalam tiga situasi yaitu melihat panorama lanskap, menyelesaikan persamaan matematika yang rumit dan menggunakan Facebook. Situasi pertama memang menujukan mereka lebih santai dibandingkan mengerjakan persamaan matematika yang membuat mereka tegang dan stress. Namun ketika mereka menggunakan Facebook, peneliti menemukan adanya daya tarik dan gairah yang lebih tinggi.

Temuan ini mendukung hipotesis peneliti bahwa kesuksesan Facebook, serta media sosial lainnya, berkorelasi dengan pengalaman positif yang mempengaruhi mental dan fisik pengguna selama memanfaatkannya.

2. Bermanfaat Bagi Pencari Kerja


Anda sedang mencari pekerjaan? Akun Facebook anda dapat dijadikan dasar evaluasi dan penilaian disaat anda melamar suatu pekerjaan. Memang bisa? Bisa saja, menurut hasil penelitian ini, walau jarang atau belum diujicobakan di Indonesia. Karena biasanya akun Facebook seorang pegawai, lebih banyak dinilai dari sisi negatifnya saja, yang artinya apabila pemilik kerja meneliti akun Facebookkaryawannya, yang akan dicari adalah sisi kelemahan karyawan tersebut.

Nah ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Northern Illinois University’s College of Business, USA. Tim peneliti menganggap bahwa penilaian terhadap akun Facebook calon karyawan lebih baik dibandingkan test IQ dan kepribadian yang selama ini dilakukan. Terutama untuk menilai kinerja karyawan untuk jangka waktu panjang.

Don Kluemper, sebagai pemimpin penelitian, melakukan studi ini dengan dua pendekatan, namun dengan pertanyaan evaluasi yang sama. Cara yang pertama, para calon pekerja mengisi pertanyaan sebagai test kepribadian seperti biasanya dilakukan oleh perusahaan pada umumnya. Cara kedua peneliti mengajukan daftar pertanyaan yang sama kepada tim penilai yang akan mengevaluasi calon karyawan berdasarkan halaman (profil) Facebook mereka.

Untuk penelitian ini, baik calon karyawan dan tim peneliti menggunakan daftar pertanyaan kuesioner kepribadian yang biasa digunakan oleh perusahaan untuk mengukur lima ciri-ciri kunci dari calon karyawan yaitu conscientiousness, agreeableness, extraversion, emotional stability and openness.

Dalam lima sampai 10 menit, penilai bisa melihat apa saja yang diposting di wallFacebook subjek (calon pekerja), memperhatikan jumlah teman yang mereka miliki, meneliti foto mereka untuk melihat bagaimana kehidupan sosial mereka kemudian menilai selera mereka terhadap buku dan musik.

Para peneliti kemudian menghitung nilai kepribadian subjek, yang didasarkan pada respon/jawaban dari calon pekerja dan yang kedua berdasarkan respon dari penilai. Tim menemukan bahwa penilai Facebook memiliki pegangan yang cukup bagus pada lima aspek yang mereka evaluasi.

Hasil penelitian ini kemudian dibuktikan dengan evaluasi lebih lanjut dimana subjek atau calon karyawan dipekerjakan. Dalam enam bulan berikutnya, peneliti meminta pengawas mereka melakukan evaluasi kinerja. Hasilnya cukup mengejutkan, skor untuk nilai kepribadian lebih akurat atau sama dengan apa yang dinilai oleh tim penilai melalui akun Facebook subjek.

3. Meningkatkan Harga Diri (lebih PD)


Nggak seperti cermin, yang mengingatkan siapa diri kita sebenarnya dan mungkin memiliki efek negatif pada harga diri jika evaluasi terhadap bayangan/gambar diri sendiri nggak sesuai dengan cita-cita kita. Beda dengan Facebook, dimana banyak umpan balik yang dapat kita dapatkan dari orang lain. Facebook dapat menunjukkan versi positif dari diri kita sendiri. Walau ada yang beranggapan bahwa hal tersebut merupakan versi yang dapat menipu diri, tetapi pada dasarnya mengandung hal yang positif.

Studi yang dilakukan oleh para peneliti dari Cornell University adalah yang pertama kali untuk menunjukkan manfaat psikologis dari pemanfaatan Facebook. Hasil studi ini mengungkapkan bahwa pengguna Facebook dapat merasakan dorongan terhadap diri mereka hanya dengan melihat wall Facebook mereka.

Peneliti Jeffrey Hancock mengatakan hasil yang mungkin memiliki efek langsung terhadap peningkatan harga diri atau lebih percaya diri, ketika pengguna Facebook memasang/upload gambar terbaik mereka dan mengungkapkan tentang diri mereka sendiri, sementara teman dan keluarga akan memberikan umpan balik secara positif. Semua ini memberikan kontribusi yang positif terhadap peningkatan harga diri dan lebih percaya diri.

4. Memungkinkan Pengguna Berhasil dalam Studi


Hasil penelitian ini mungkin dapat didebatkan. Namun menurut peneliti, mereka yang aktif memanfaatkan Facebook termasuk yang giat memposting/update status mereka setiap menit lebih bertahan melanjutkan studinya di perguruan tinggi dibandingkan pengguna yang kurang aktif.

Studi yang dilakukan oleh Abilene Christian University ini, mengikutsertakan 375 mahasiswa semester pertama selama sembilan bulan untuk mengkaji bagaimana aktivitas mereka di Facebook dapat digunakan sebagai prediktor kemungkinan mahasiswa untuk tetap bersekolah. Penelitian ini menemukan bahwa siswa yang kembali ke sekolah setelah tahun pertama cukup signifikan dengan aktifitas mereka diFacebook. Mereka yang aktif memanfaatkan Facebook cenderung bertahan dalam studi mereka

Hasil lainnya dari penelitian ini, mematahkan pendapat dan penilaian banyak kalangan, yang selama ini menilai bahwa pengguna aktif Facebook atau media sosial lainnya kurang memiliki kehidupan sosial yang baik, atau jauh dari pergaulan sosial di kehidupan sehari-hari.

Menurut Jason Morris, asisten profesor dan direktur pendidikan tinggi di Abilene Christian University, yang juga penulis artikel penelitian ini, mahasiswa yang lebih aktif di Facebook, mereka juga secara aktif terlibat dalam kehidupan sehari-hari mereka, membangun pertemanan yang baru dan mengambil bagian dalam kegiatan universitas.

Untuk variabel lain, penelitian juga mengukur jumlah pengguna yang bergabung dalamFacebook Group dan album foto yang diposting oleh mahasiswa. Dengan mengabaikan perbedaan statistik, Peneliti menemukan bahwa aktivitas di wall/timeline dan jumlah teman Facebook adalah prediktor yang paling signifikan untuk menentukan keaktifan seseorang di Facebook, yang pada gilirannya mencerminkan antusiasme mereka dalam dunia akademis di sekitar mereka.

Studi ini muncul pada waktu yang tepat dimana banyak kalangan berdebat tentang pengaruh teknologi, seperti situs jejaring sosial dan smartphone dapat mengisolasi penggunanya dari kehidupan sosial.

Walau dengan interpretasi yang berbeda, peneliti percaya bahwa situs sepertiFacebook dapat menjadi pelarian dari realitas sebenarnya, itu adalah cerminan kehidupan nyata pengguna dalam berinteraksi. Para siswa yang lebih aktif berhubungan dengan orang di Facebook, kemungkinan besar sudah berhubungan dengan mereka di dunia nyata.

5. Berperan dalam Masalah Kecan


Facebook dapat membuat atau menghancurkan sebuah hubungan, benar? Nah menurut survei yang dilakukan pada bulan Oktober 2011 dan mengikutsertakan 550 orang dewasa di jejaring sosial, menyebutkan bahwa Facebook adalah jantung dari sebuah hubungan, baik pada masa awal perkenalan, dalam proses membangun dan mepertahankan hubungan maupun pada masa akhir dari hubungan tersebut.

Bagaimanan bila anda bertemu seseorang yang menarik? Jika anda seperti kebanyakan orang-orang dalam survei Lab42, anda akan mengirim permintaan pertemanan kepada seseorang di Facebook setelah anda melakukan pengintaian keberadaan orang tersebut terlebih dahulu. Lima puluh tujuh persen responden menjawab hal yang sama.

Apabila ada ketertarikan, 42 persen responden menjawab akan mencari orang yang mereka sukai secara pribadi (langsung dalam kehidupan nyata), namun 25 persen mengatakan mereka hanya berhubungan melalui Facebook saja. Respon yang lain, mereka mendekati orang yang disukai melalui telepon (16 persen), SMS (11 persen), email (5 persen), dan lainnya (2 persen).

Jika hubungan tersebut berhasil dibangun dan berlanjut terus, 38 persen akan memperbarui status hubungan mereka di Facebook, seolah-olah sebagaipengumuman resmi. Hanya 24 persen akan memberitahu teman-teman mereka, dan jumlah yang sama akan menunggu sampai ada perubahan dalam hubungan mereka, baru setelah itu mereka menganti statusnya di Facebook .

Facebook terus menjadi alat komunikasi penting antara pasangan, 79 persen pasangan mengatakan bahwa mereka selalu mengirim pesan melalui Facebook atau chatting menggunakan aplikasi lain yang populer.

Ketika hubungan berakhir, lebih dari setengah (52 persen) mengatakan mereka akan memperbarui status mereka di Facebook dengan “single” atau “in a relationship ” dengan segera, ini sebagai pemberitahuan resmi kepada teman-teman mereka. Hanya 9 persen mengatakan bahwa mereka akan menunggu pasangannya mengubah statusnya sebelum mereka melakukannya.

Nah semua ini adalah penelitian di Negara yang berbeda dengan Indonesia. Apakah hasil penelitian ini juga dapat mengambarkan hal yang sama untuk pengguna Facebook di Indonesia? Masing-masing memiliki penilaian sendiri. Namun indikasi seperti ini dapat saja terjadi bagi pengguna Facebook di Indonesia.

Benar atau salah, sesuai atau tidak, layak atau tidaknya, semoga hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bersama.

Manfaat Facebook Berdasarkan Penelitian

Facebook merupakan situs jejaringan sosial paling populer di dunia. Banyak sekali manfaat facebook jika Anda menggunakannya. Namun manfaat tersebut kebanyakannya adalah manfaat berdasarkan penilaian subjektif dan tidak berdasarkan penelitian.

Manfaat Facebook Berdasarkan Penelitian

Nah berikut ini beberapa hasil penelitian yang dipublikasikan tentang manfaat facebook yang dikutip dari Kompasiana.com.

1. Menurunkan Tingkat Stress


Peneliti : Institute of Human, Language and Environmental Sciences, IULM University, Milan, Italy. Brain and Cognitive Sciences Department, Massachusetts Institute of Technology, Cambridge, Massachusetts. Applied Technology for Neuro-Psychology Lab, Istituto Auxologico Italiano-IRCCS, Milano, Italy. Dipartimento di Psicologia, Università Cattolica del Sacro Cuore, Milano, Italy.

Dalam beberapa kasus memang ada yang mengaku ngalamin stress selama menggunakan Facebook, namun penelitian ini menunjukan bahwa mereka yang menghabiskan waktu menggunakan Facebook dapat membantu dirinya untuk rileks dan menurunkan tingkat stress.

Menurut para peneliti dari Massachusetts Institute of Technology dan University of Milan, selama mempelajari 30 siswa, peneliti menemukan bahwa keadaan alami yang mereka rasakan selama menggunakan jejaring sosial dapat membuat mereka santai dan menurunkan kadar stres dan ketegangan.

Dalam studi tersebut, para siswa dipantau dalam tiga situasi yaitu melihat panorama lanskap, menyelesaikan persamaan matematika yang rumit dan menggunakan Facebook. Situasi pertama memang menujukan mereka lebih santai dibandingkan mengerjakan persamaan matematika yang membuat mereka tegang dan stress. Namun ketika mereka menggunakan Facebook, peneliti menemukan adanya daya tarik dan gairah yang lebih tinggi.

Temuan ini mendukung hipotesis peneliti bahwa kesuksesan Facebook, serta media sosial lainnya, berkorelasi dengan pengalaman positif yang mempengaruhi mental dan fisik pengguna selama memanfaatkannya.

2. Bermanfaat Bagi Pencari Kerja


Anda sedang mencari pekerjaan? Akun Facebook anda dapat dijadikan dasar evaluasi dan penilaian disaat anda melamar suatu pekerjaan. Memang bisa? Bisa saja, menurut hasil penelitian ini, walau jarang atau belum diujicobakan di Indonesia. Karena biasanya akun Facebook seorang pegawai, lebih banyak dinilai dari sisi negatifnya saja, yang artinya apabila pemilik kerja meneliti akun Facebookkaryawannya, yang akan dicari adalah sisi kelemahan karyawan tersebut.

Nah ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Northern Illinois University’s College of Business, USA. Tim peneliti menganggap bahwa penilaian terhadap akun Facebook calon karyawan lebih baik dibandingkan test IQ dan kepribadian yang selama ini dilakukan. Terutama untuk menilai kinerja karyawan untuk jangka waktu panjang.

Don Kluemper, sebagai pemimpin penelitian, melakukan studi ini dengan dua pendekatan, namun dengan pertanyaan evaluasi yang sama. Cara yang pertama, para calon pekerja mengisi pertanyaan sebagai test kepribadian seperti biasanya dilakukan oleh perusahaan pada umumnya. Cara kedua peneliti mengajukan daftar pertanyaan yang sama kepada tim penilai yang akan mengevaluasi calon karyawan berdasarkan halaman (profil) Facebook mereka.

Untuk penelitian ini, baik calon karyawan dan tim peneliti menggunakan daftar pertanyaan kuesioner kepribadian yang biasa digunakan oleh perusahaan untuk mengukur lima ciri-ciri kunci dari calon karyawan yaitu conscientiousness, agreeableness, extraversion, emotional stability and openness.

Dalam lima sampai 10 menit, penilai bisa melihat apa saja yang diposting di wallFacebook subjek (calon pekerja), memperhatikan jumlah teman yang mereka miliki, meneliti foto mereka untuk melihat bagaimana kehidupan sosial mereka kemudian menilai selera mereka terhadap buku dan musik.

Para peneliti kemudian menghitung nilai kepribadian subjek, yang didasarkan pada respon/jawaban dari calon pekerja dan yang kedua berdasarkan respon dari penilai. Tim menemukan bahwa penilai Facebook memiliki pegangan yang cukup bagus pada lima aspek yang mereka evaluasi.

Hasil penelitian ini kemudian dibuktikan dengan evaluasi lebih lanjut dimana subjek atau calon karyawan dipekerjakan. Dalam enam bulan berikutnya, peneliti meminta pengawas mereka melakukan evaluasi kinerja. Hasilnya cukup mengejutkan, skor untuk nilai kepribadian lebih akurat atau sama dengan apa yang dinilai oleh tim penilai melalui akun Facebook subjek.

3. Meningkatkan Harga Diri (lebih PD)


Nggak seperti cermin, yang mengingatkan siapa diri kita sebenarnya dan mungkin memiliki efek negatif pada harga diri jika evaluasi terhadap bayangan/gambar diri sendiri nggak sesuai dengan cita-cita kita. Beda dengan Facebook, dimana banyak umpan balik yang dapat kita dapatkan dari orang lain. Facebook dapat menunjukkan versi positif dari diri kita sendiri. Walau ada yang beranggapan bahwa hal tersebut merupakan versi yang dapat menipu diri, tetapi pada dasarnya mengandung hal yang positif.

Studi yang dilakukan oleh para peneliti dari Cornell University adalah yang pertama kali untuk menunjukkan manfaat psikologis dari pemanfaatan Facebook. Hasil studi ini mengungkapkan bahwa pengguna Facebook dapat merasakan dorongan terhadap diri mereka hanya dengan melihat wall Facebook mereka.

Peneliti Jeffrey Hancock mengatakan hasil yang mungkin memiliki efek langsung terhadap peningkatan harga diri atau lebih percaya diri, ketika pengguna Facebook memasang/upload gambar terbaik mereka dan mengungkapkan tentang diri mereka sendiri, sementara teman dan keluarga akan memberikan umpan balik secara positif. Semua ini memberikan kontribusi yang positif terhadap peningkatan harga diri dan lebih percaya diri.

4. Memungkinkan Pengguna Berhasil dalam Studi


Hasil penelitian ini mungkin dapat didebatkan. Namun menurut peneliti, mereka yang aktif memanfaatkan Facebook termasuk yang giat memposting/update status mereka setiap menit lebih bertahan melanjutkan studinya di perguruan tinggi dibandingkan pengguna yang kurang aktif.

Studi yang dilakukan oleh Abilene Christian University ini, mengikutsertakan 375 mahasiswa semester pertama selama sembilan bulan untuk mengkaji bagaimana aktivitas mereka di Facebook dapat digunakan sebagai prediktor kemungkinan mahasiswa untuk tetap bersekolah. Penelitian ini menemukan bahwa siswa yang kembali ke sekolah setelah tahun pertama cukup signifikan dengan aktifitas mereka diFacebook. Mereka yang aktif memanfaatkan Facebook cenderung bertahan dalam studi mereka

Hasil lainnya dari penelitian ini, mematahkan pendapat dan penilaian banyak kalangan, yang selama ini menilai bahwa pengguna aktif Facebook atau media sosial lainnya kurang memiliki kehidupan sosial yang baik, atau jauh dari pergaulan sosial di kehidupan sehari-hari.

Menurut Jason Morris, asisten profesor dan direktur pendidikan tinggi di Abilene Christian University, yang juga penulis artikel penelitian ini, mahasiswa yang lebih aktif di Facebook, mereka juga secara aktif terlibat dalam kehidupan sehari-hari mereka, membangun pertemanan yang baru dan mengambil bagian dalam kegiatan universitas.

Untuk variabel lain, penelitian juga mengukur jumlah pengguna yang bergabung dalamFacebook Group dan album foto yang diposting oleh mahasiswa. Dengan mengabaikan perbedaan statistik, Peneliti menemukan bahwa aktivitas di wall/timeline dan jumlah teman Facebook adalah prediktor yang paling signifikan untuk menentukan keaktifan seseorang di Facebook, yang pada gilirannya mencerminkan antusiasme mereka dalam dunia akademis di sekitar mereka.

Studi ini muncul pada waktu yang tepat dimana banyak kalangan berdebat tentang pengaruh teknologi, seperti situs jejaring sosial dan smartphone dapat mengisolasi penggunanya dari kehidupan sosial.

Walau dengan interpretasi yang berbeda, peneliti percaya bahwa situs sepertiFacebook dapat menjadi pelarian dari realitas sebenarnya, itu adalah cerminan kehidupan nyata pengguna dalam berinteraksi. Para siswa yang lebih aktif berhubungan dengan orang di Facebook, kemungkinan besar sudah berhubungan dengan mereka di dunia nyata.

5. Berperan dalam Masalah Kecan


Facebook dapat membuat atau menghancurkan sebuah hubungan, benar? Nah menurut survei yang dilakukan pada bulan Oktober 2011 dan mengikutsertakan 550 orang dewasa di jejaring sosial, menyebutkan bahwa Facebook adalah jantung dari sebuah hubungan, baik pada masa awal perkenalan, dalam proses membangun dan mepertahankan hubungan maupun pada masa akhir dari hubungan tersebut.

Bagaimanan bila anda bertemu seseorang yang menarik? Jika anda seperti kebanyakan orang-orang dalam survei Lab42, anda akan mengirim permintaan pertemanan kepada seseorang di Facebook setelah anda melakukan pengintaian keberadaan orang tersebut terlebih dahulu. Lima puluh tujuh persen responden menjawab hal yang sama.

Apabila ada ketertarikan, 42 persen responden menjawab akan mencari orang yang mereka sukai secara pribadi (langsung dalam kehidupan nyata), namun 25 persen mengatakan mereka hanya berhubungan melalui Facebook saja. Respon yang lain, mereka mendekati orang yang disukai melalui telepon (16 persen), SMS (11 persen), email (5 persen), dan lainnya (2 persen).

Jika hubungan tersebut berhasil dibangun dan berlanjut terus, 38 persen akan memperbarui status hubungan mereka di Facebook, seolah-olah sebagaipengumuman resmi. Hanya 24 persen akan memberitahu teman-teman mereka, dan jumlah yang sama akan menunggu sampai ada perubahan dalam hubungan mereka, baru setelah itu mereka menganti statusnya di Facebook .

Facebook terus menjadi alat komunikasi penting antara pasangan, 79 persen pasangan mengatakan bahwa mereka selalu mengirim pesan melalui Facebook atau chatting menggunakan aplikasi lain yang populer.

Ketika hubungan berakhir, lebih dari setengah (52 persen) mengatakan mereka akan memperbarui status mereka di Facebook dengan “single” atau “in a relationship ” dengan segera, ini sebagai pemberitahuan resmi kepada teman-teman mereka. Hanya 9 persen mengatakan bahwa mereka akan menunggu pasangannya mengubah statusnya sebelum mereka melakukannya.

Nah semua ini adalah penelitian di Negara yang berbeda dengan Indonesia. Apakah hasil penelitian ini juga dapat mengambarkan hal yang sama untuk pengguna Facebook di Indonesia? Masing-masing memiliki penilaian sendiri. Namun indikasi seperti ini dapat saja terjadi bagi pengguna Facebook di Indonesia.

Benar atau salah, sesuai atau tidak, layak atau tidaknya, semoga hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bersama.

Subscribe Our Newsletter