Ilustrasi Orangtua Lebih Memilih Ponsel Daripada Anaknya - Tekno Match

    Social Items

Tidak dapat dipungkiri, bahwa smartphone saat ini sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan kita sehari-hari. Saat kita memegang smartphone, layaknya kita sedang menggenggam dunia. Kita bisa melakukan apapun hanya dengan satu fitur yang ada dalam smartphone kita.

Ilustrasi Orangtua Lebih Memilih Ponsel Daripada Anaknya

Semua informasi yang kita butuhkan tersedia dengan sangat mudah, dari informasi yang penting sampai informasi yang tidak penting pun ada. Namun, banyak orang malah lebih senang dengan informasi yang tidak penting.

Apa yang terjadi dengan adanya smartphone? yang terjadi adalah hal yang sungguh ironis, Smartphone yang awalnya dapat mendekatkan yang jauh, sekarang justru menjauhkan yang dekat. Banyak orang lebih peduli pada smartphone-nya dibandingkan dengan orang yang jelas-jelas ada disampingnya.

Jika kamu mempunyai anak, Anakmu merasa jauh karena kamu lebih memilih smartphone dan lebih sering memperhatikan smartphonemu ketimbang si buah hati? Pasti kasihan sekali anak itu. Anak kecil tidak bisa berbuat apa-apa saat mamanya lebih mementingkan smarphone-nya daripada dirinya, dia tidak bisa mengungkapkan kekesalannya itu.

Padahal, pada usia emas anak kecil membutuhkan interaksi nyata dengan orang tuanya untuk membantu perkembangan mental dan fisiknya. Buat para orang tua muda yang hidup dalam era kekinian, jangan sampai anak kamu berandai-andai “betapa bahagianya kalau aku jadi SMARTPHONE ayah bunda“.

Tekno Match sudah membuat sebuah ilutrasi monohok orang tua lebih memilih smartphone daripada anaknya, pasti sedih banget anaknya kalau punya orang tua seperti ini.

1. Kebanyakkan anak kecil, pasti ingin didongengi sebelum tidur, tapi Ayah…

Ilustrasi Orangtua Lebih Memilih Ponsel Daripada Anaknya

Dalam hati seorang anak, pasti sedih sekali jika orang tuanya lebih memilih bermain gadget daripada membacakan dongeng untukknya. Anak kecil ini tidak bisa berbuat apa-apa ketika ayahnya tidak mempedulikannya.

2. Ayah, Tahu gak? aku udah bisa perkalian Lho… Tapi ayahnya malah main Hp, perasaanmu?


Ilustrasi Orangtua Lebih Memilih Ponsel Daripada Anaknya

Anak kecil paling bahagia jika mendapat sanjungan dari orang tuanya, Menunjukkan bahwa ternyata dia bisa. Tapi, apa jadinya jika orangtunya justru malah asyik main handphone.

3. Waktu main petak umpet Ibu sibuk dengan Hpnya


Ilustrasi Orangtua Lebih Memilih Ponsel Daripada Anaknya

Ibu pun tidak bisa meninggalkan gadgetnya saat bermain dengan anaknya. Dalam diam sebenarnya anak kecil sangat sedih melihat bunda-nya lebih memilih bermain gadget.

4. Sampai-sampai anak merasa dia bukan anak kesayangannya lagi


Ilustrasi Orangtua Lebih Memilih Ponsel Daripada Anaknya

Jangan sampai si buah hati merasa orang tuanya beda kasih karena orang tuanya tidak peduli dengannya, dia akan berpikir bahwa orang tuanya tidak sayang padanya.

5. Please ayah, ngobrol lah dengan anakmu ini…


Ilustrasi Orangtua Lebih Memilih Ponsel Daripada Anaknya

Perasaan anak kecil selalu ingin ditunjukkan hal-hal yang baru, memberi pengarahan tentang sesuatu yang dilihat.

6. Makan malam bersama harusnya intim, bukan sibuk dengan Hp masing-masing


Ilustrasi Orangtua Lebih Memilih Ponsel Daripada Anaknya

Saat makan malam pun mereka masih sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Apakah tidak ada obrolan yang lebih seru ketimbang asyik dengan gadgetnya. Apakah aku harus pergi ke panti asuhan.

7. Perhatikanlah perasaan anakmu ini, Bu..


Ilustrasi Orangtua Lebih Memilih Ponsel Daripada Anaknya

Aku tahu, ibu menjawab pertanyaanku tapi pikiran ibu entah kemana. Ibu hanya mau menjawab pertanyaan orang-orang di sosial media. Apakah aku harus bertanya kepada ibu melalui sosial media agar ibu fokus untuk menjawab pertanyaanku.

8. Apa aku harus jadi ‘Hp’ Ayah dan Bunda biar bisa diperhatikan dengan baik?


Ilustrasi Orangtua Lebih Memilih Ponsel Daripada Anaknya

Mungkin aku harus menjadi HP agar ayah dan ibuku perhatian dan sayang sama aku. Nanti kalau Baterai HP ku rusak dan komponen-komponenku juga rusak ibu bisa membeli HP baru, dan aku pun sudah ada di surga.
Hanna Anisa menggegerkan publik setelah video panasnya dengan seorang pria beredar luas di media sosial (medsos) sejak Rabu (25/10). Dalam video itu terlihat Hanna begituan dengan berbagai gaya.

Beberapa fakta penting muncul setelah video panas Hanna beredar.

Hanna bukan mahasiswi UI lagi

Dalam video panas itu tertulis bahwa Hanna merupakan mahasiswi Universitas Indonesia (UI). Namun, Hanna ternyata sudah tidak menjadi mahasiswi universitas papan atas tanah air itu. Pihak UI juga mengakui Hanna pernah menempuh kuliah di kampus top Indonesia itu. Meski begitu, saat ini, Hanna bukan lagi bagian dari civitas academica UI.

"Setelah melakukan pengecekan, dapat kami sampaikan bahwa nama yang dikaitkan selaku pemeran dalam video tersebut adalah lulusan UI dan sudah tidak lagi menjadi mahasiswi UI sebagaimana tercantum di berbagai judul video,” ucap Humas UI Egia Tarigan.

Hanna pernah menempuh pendidikan di jurusan kriminologi

Berdasarkan penelusuran Metropolitan, Hanna pernah menimba ilmu di FISIP jurusan kriminologi. Dia merupakan angkatan 2013. Saat ini, Hanna sudah lulus dari kampus top Indonesia itu.

Kepala Humas dan Komunikasi Informasi Publik (KIP) UI Rifelly Dewi Astuti mengakui, Hanna pernah menempuh pendidikan di sana.

Namun, saat ini, Hanna sudah lulus. Statusnya adalah alumnus.

“Jadi, dia sudah tidak lagi menjadi mahasiswi UI seperti tercantum di berbagai judul video. Segala akibat yang dihasilkan dari beredarnya video tersebut maka akan menjadi tanggung jawab pribadi yang bersangkutan,” kata Rifelly.

Ilustrasi Orangtua Lebih Memilih Ponsel Daripada Anaknya

Tidak dapat dipungkiri, bahwa smartphone saat ini sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan kita sehari-hari. Saat kita memegang smartphone, layaknya kita sedang menggenggam dunia. Kita bisa melakukan apapun hanya dengan satu fitur yang ada dalam smartphone kita.

Ilustrasi Orangtua Lebih Memilih Ponsel Daripada Anaknya

Semua informasi yang kita butuhkan tersedia dengan sangat mudah, dari informasi yang penting sampai informasi yang tidak penting pun ada. Namun, banyak orang malah lebih senang dengan informasi yang tidak penting.

Apa yang terjadi dengan adanya smartphone? yang terjadi adalah hal yang sungguh ironis, Smartphone yang awalnya dapat mendekatkan yang jauh, sekarang justru menjauhkan yang dekat. Banyak orang lebih peduli pada smartphone-nya dibandingkan dengan orang yang jelas-jelas ada disampingnya.

Jika kamu mempunyai anak, Anakmu merasa jauh karena kamu lebih memilih smartphone dan lebih sering memperhatikan smartphonemu ketimbang si buah hati? Pasti kasihan sekali anak itu. Anak kecil tidak bisa berbuat apa-apa saat mamanya lebih mementingkan smarphone-nya daripada dirinya, dia tidak bisa mengungkapkan kekesalannya itu.

Padahal, pada usia emas anak kecil membutuhkan interaksi nyata dengan orang tuanya untuk membantu perkembangan mental dan fisiknya. Buat para orang tua muda yang hidup dalam era kekinian, jangan sampai anak kamu berandai-andai “betapa bahagianya kalau aku jadi SMARTPHONE ayah bunda“.

Tekno Match sudah membuat sebuah ilutrasi monohok orang tua lebih memilih smartphone daripada anaknya, pasti sedih banget anaknya kalau punya orang tua seperti ini.

1. Kebanyakkan anak kecil, pasti ingin didongengi sebelum tidur, tapi Ayah…

Ilustrasi Orangtua Lebih Memilih Ponsel Daripada Anaknya

Dalam hati seorang anak, pasti sedih sekali jika orang tuanya lebih memilih bermain gadget daripada membacakan dongeng untukknya. Anak kecil ini tidak bisa berbuat apa-apa ketika ayahnya tidak mempedulikannya.

2. Ayah, Tahu gak? aku udah bisa perkalian Lho… Tapi ayahnya malah main Hp, perasaanmu?


Ilustrasi Orangtua Lebih Memilih Ponsel Daripada Anaknya

Anak kecil paling bahagia jika mendapat sanjungan dari orang tuanya, Menunjukkan bahwa ternyata dia bisa. Tapi, apa jadinya jika orangtunya justru malah asyik main handphone.

3. Waktu main petak umpet Ibu sibuk dengan Hpnya


Ilustrasi Orangtua Lebih Memilih Ponsel Daripada Anaknya

Ibu pun tidak bisa meninggalkan gadgetnya saat bermain dengan anaknya. Dalam diam sebenarnya anak kecil sangat sedih melihat bunda-nya lebih memilih bermain gadget.

4. Sampai-sampai anak merasa dia bukan anak kesayangannya lagi


Ilustrasi Orangtua Lebih Memilih Ponsel Daripada Anaknya

Jangan sampai si buah hati merasa orang tuanya beda kasih karena orang tuanya tidak peduli dengannya, dia akan berpikir bahwa orang tuanya tidak sayang padanya.

5. Please ayah, ngobrol lah dengan anakmu ini…


Ilustrasi Orangtua Lebih Memilih Ponsel Daripada Anaknya

Perasaan anak kecil selalu ingin ditunjukkan hal-hal yang baru, memberi pengarahan tentang sesuatu yang dilihat.

6. Makan malam bersama harusnya intim, bukan sibuk dengan Hp masing-masing


Ilustrasi Orangtua Lebih Memilih Ponsel Daripada Anaknya

Saat makan malam pun mereka masih sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Apakah tidak ada obrolan yang lebih seru ketimbang asyik dengan gadgetnya. Apakah aku harus pergi ke panti asuhan.

7. Perhatikanlah perasaan anakmu ini, Bu..


Ilustrasi Orangtua Lebih Memilih Ponsel Daripada Anaknya

Aku tahu, ibu menjawab pertanyaanku tapi pikiran ibu entah kemana. Ibu hanya mau menjawab pertanyaan orang-orang di sosial media. Apakah aku harus bertanya kepada ibu melalui sosial media agar ibu fokus untuk menjawab pertanyaanku.

8. Apa aku harus jadi ‘Hp’ Ayah dan Bunda biar bisa diperhatikan dengan baik?


Ilustrasi Orangtua Lebih Memilih Ponsel Daripada Anaknya

Mungkin aku harus menjadi HP agar ayah dan ibuku perhatian dan sayang sama aku. Nanti kalau Baterai HP ku rusak dan komponen-komponenku juga rusak ibu bisa membeli HP baru, dan aku pun sudah ada di surga.
Hanna Anisa menggegerkan publik setelah video panasnya dengan seorang pria beredar luas di media sosial (medsos) sejak Rabu (25/10). Dalam video itu terlihat Hanna begituan dengan berbagai gaya.

Beberapa fakta penting muncul setelah video panas Hanna beredar.

Hanna bukan mahasiswi UI lagi

Dalam video panas itu tertulis bahwa Hanna merupakan mahasiswi Universitas Indonesia (UI). Namun, Hanna ternyata sudah tidak menjadi mahasiswi universitas papan atas tanah air itu. Pihak UI juga mengakui Hanna pernah menempuh kuliah di kampus top Indonesia itu. Meski begitu, saat ini, Hanna bukan lagi bagian dari civitas academica UI.

"Setelah melakukan pengecekan, dapat kami sampaikan bahwa nama yang dikaitkan selaku pemeran dalam video tersebut adalah lulusan UI dan sudah tidak lagi menjadi mahasiswi UI sebagaimana tercantum di berbagai judul video,” ucap Humas UI Egia Tarigan.

Hanna pernah menempuh pendidikan di jurusan kriminologi

Berdasarkan penelusuran Metropolitan, Hanna pernah menimba ilmu di FISIP jurusan kriminologi. Dia merupakan angkatan 2013. Saat ini, Hanna sudah lulus dari kampus top Indonesia itu.

Kepala Humas dan Komunikasi Informasi Publik (KIP) UI Rifelly Dewi Astuti mengakui, Hanna pernah menempuh pendidikan di sana.

Namun, saat ini, Hanna sudah lulus. Statusnya adalah alumnus.

“Jadi, dia sudah tidak lagi menjadi mahasiswi UI seperti tercantum di berbagai judul video. Segala akibat yang dihasilkan dari beredarnya video tersebut maka akan menjadi tanggung jawab pribadi yang bersangkutan,” kata Rifelly.

Subscribe Our Newsletter