Data Pengguna Bocor, Google+ Akan Ditutup? - Tekno Match

    Social Items

Produk-produk dari Google terbukti tidak selamanya sukses. Setelah sempat beberapa tahun menghiasi dunia sosial media, Google+ akhirnya akan ditutup.

Data Pengguna Bocor, Google+ Akan Ditutup

Hal itu dikarenakan celah keamanan (bug) di media sosial Google+ mengekspos 500.000 lebih data pribadi pengguna.

Ratusan ribu data tersebut terdiri dari nama, alamat e-mail, pekerjaan, jenis kelamin, umur, hobi, dan data-data penting lain.

Sebenarnya, cacatnya Google+ sudah terjadi selama tiga tahun, mulai dari 2015 hingga 2018. Google pun mencoba memperbaikinya namun akhirnya lebih memilih untuk menutup sosial media tersebut pada Senin (8/10).

Alasannya, Google tidak ingin menarik pengawasan ketat dari regulator internet dan sosial media.

“Kami akan menonaktifkan Google+ untuk seluruh konsumen,” seperti yang tertulis di blog resmi Google, Selasa (9/10). “Google+ juga memiliki tingkat penggunaan dan ikatan pengguna yang sangat rendah,” tulis Google.

Mengenang Perjalanan Google+ dari Awal


Mengenang Perjalanan Google Plus dari Awal

Semua bermula saat Google+ dirilis pada Juni 2011. Platform tersebut menjadi usaha berikutnya dari Google dalam melahirkan jejaring sosial setelah sempat meluncurkan Orkut (2004), Google Friend Connect (2008) dan Google Buzz (2010).

Menariknya, riwayat ketiganya sudah tamat. Orkut ditutup pada 2014. Google Friend Connect pensiun pada 2012. Sedangkan Google Buzz hanya mampu bertahan selama satu tahun.

Walau begitu, dengan Vic Gundotra dan Bradley Horowitz di balik kemudi, Google+ menghadirkan ide bernama Circles. Hal tersebut memungkinkan user untuk membuat grup berdasarkan hubungan, seperti keluarga, teman, maupun rekan kerja sehingga obrolan di dalamnya pun akan sesuai dengan orang-orang di dalamnya.

Bahkan, cara Google dalam memudahkan user untuk membuat grup pun dianggap lebih baik dari Facebook saat itu. Sekadar informasi, media sosial tersebut juga punya sistem organisasi kontak di dalamnya.

Fitur lain yang dihadirkannya adalah Sparks yang membatu penggunanya untuk mencari berita dan informasi sesuai minat. Hangouts pun juga diperkenalkan oleh Google+.

Dipertanyakan Mark Zuckerberg


Dipertanyakan Mark Zuckerberg

Dua minggu setelah peluncuran, platform tersebut sudah memiliki 10 juta pengguna. Kemudian, angka tersebut bertambah menjadi 25 juta setelah Google+ menjalani waktu sebulan pasca dirilis.

Jumlahnya pun terus bertambah menjadi 40 juta pada Oktober 2011 dan 90 juta pada akhir tahun. Angka yang impresif untuk menunjukkan keseriusannya dalam menantang Facebook.
Walau begitu, hal tersebut memang tidak bisa menjamin apakah penggunannya akan terus menggunakannya atau tidak. Itu juga yang digaris bawahi oleh Mark Zuckerberg saat berkomentar pertama kalinya mengenai Google+.

Saat itu, ia mengatakan bahwa seluruh pesaing Facebook harus membangun grafik yang menggambarkan hubungan secara personal dari masing-masing penggunannya. Media sosial besutannya, yang saat itu sudah memiliki 750 juta, tentunya telah melakukannya.

Google+ Mulai Melambat


Seiring berjalannya waktu, Google+ pun mulai menemui kerikil-kerikil tajam. Kebijakannya yang mengharuskan user untuk menggunakan nama asli menuai kecaman. Selain itu, kurang cakapnya mereka dalam mengurus spam juga mendapat komentar miring.

Selain itu, keputusannya dalam mewajibkan user untuk memiliki akun Google+ ketika hendak bergabung dengan Gmail juga mendapat kritik. Di tengah badai tersebut, Hangouts tampak menuju ke masa depan yang lebih cerah dibanding induknya sendiri, yaitu Google+.

Pada 2013, platform tersebut tampak mulai kehabisan bensin. Engagement user dinilai minim, dan kurang menjamah banyak pihak. Salah satu alasannya adalah, Google+ dianggap bukan sebagai situs yang ingin dikunjungi oleh orang sebagaimana Facebook, namun lebih seperti lapisan dari layanan lain milik Google.

Berbagai usaha pun dilakukan untuk mengangkat platform tersebut. Fitur baru bernama Communities hingga integrasi terhadap Gmail dan Google Contacts pun dimunculkan.

Satu yang paling menarik perhatian adalah, Google mewajibkan pengguna YouTube untuk memiliki akun Google+ jika ingin menulis komentar terhadap video yang ditontonnya. Sekali lagi, tindakannya ini menuai kritik pedas.

Dipreteli Sampai ke Akar


Pada April 2014, Google+ ditinggal oleh pemimpinnya yaitu Vic Gundotra. Tak lama berselang, tepatnya pada Juli 2014, giliran layanan Hangouts yang keluar dan berdiri sendiri.

Satu yang menarik, Google+ menghapus kebijakan yang mengharuskan user untuk menulis nama asli. Mereka pun juga meminta maaf atas lahirnya peraturan tersebut.

Tahun berikutnya, Google+ terus dipreteli setelah fitur berbagi fotonya menjadi produk sendiri dengan nama Google Photos. Keputusan yang tepat karena pada akhir 2015 platform tersebut sudah memiliki 100 juta pengguna aktif bulanan.

Masih di tahun yang sama, Google+ juga tidak lagi diwajibkan bagi user yang ingin menulis komentar di YouTube. Hal serupa juga dilakukan terhadap Android Gaming dan Play Store pada 2016.

Kalender 2017 berlalu begitu saja tanpa ada perubahan berarti sampai akhirnya pada Oktober 2018, Google+ diumumkan resmi ditutup. Sebagaimana disebutkan di atas, minimnya pengguna hingga masalah keamanan jadi alasannya.

Bisa jadi ini adalah keputusan yang tepat dari Google dalam menghentikan Google+. Jika tidak, bukan menutup kemungkinan mereka akan mengalami kasus yang lebih besar seperti Facebook dengan Cambridge Analytica.

Data Pengguna Bocor, Google+ Akan Ditutup?

Produk-produk dari Google terbukti tidak selamanya sukses. Setelah sempat beberapa tahun menghiasi dunia sosial media, Google+ akhirnya akan ditutup.

Data Pengguna Bocor, Google+ Akan Ditutup

Hal itu dikarenakan celah keamanan (bug) di media sosial Google+ mengekspos 500.000 lebih data pribadi pengguna.

Ratusan ribu data tersebut terdiri dari nama, alamat e-mail, pekerjaan, jenis kelamin, umur, hobi, dan data-data penting lain.

Sebenarnya, cacatnya Google+ sudah terjadi selama tiga tahun, mulai dari 2015 hingga 2018. Google pun mencoba memperbaikinya namun akhirnya lebih memilih untuk menutup sosial media tersebut pada Senin (8/10).

Alasannya, Google tidak ingin menarik pengawasan ketat dari regulator internet dan sosial media.

“Kami akan menonaktifkan Google+ untuk seluruh konsumen,” seperti yang tertulis di blog resmi Google, Selasa (9/10). “Google+ juga memiliki tingkat penggunaan dan ikatan pengguna yang sangat rendah,” tulis Google.

Mengenang Perjalanan Google+ dari Awal


Mengenang Perjalanan Google Plus dari Awal

Semua bermula saat Google+ dirilis pada Juni 2011. Platform tersebut menjadi usaha berikutnya dari Google dalam melahirkan jejaring sosial setelah sempat meluncurkan Orkut (2004), Google Friend Connect (2008) dan Google Buzz (2010).

Menariknya, riwayat ketiganya sudah tamat. Orkut ditutup pada 2014. Google Friend Connect pensiun pada 2012. Sedangkan Google Buzz hanya mampu bertahan selama satu tahun.

Walau begitu, dengan Vic Gundotra dan Bradley Horowitz di balik kemudi, Google+ menghadirkan ide bernama Circles. Hal tersebut memungkinkan user untuk membuat grup berdasarkan hubungan, seperti keluarga, teman, maupun rekan kerja sehingga obrolan di dalamnya pun akan sesuai dengan orang-orang di dalamnya.

Bahkan, cara Google dalam memudahkan user untuk membuat grup pun dianggap lebih baik dari Facebook saat itu. Sekadar informasi, media sosial tersebut juga punya sistem organisasi kontak di dalamnya.

Fitur lain yang dihadirkannya adalah Sparks yang membatu penggunanya untuk mencari berita dan informasi sesuai minat. Hangouts pun juga diperkenalkan oleh Google+.

Dipertanyakan Mark Zuckerberg


Dipertanyakan Mark Zuckerberg

Dua minggu setelah peluncuran, platform tersebut sudah memiliki 10 juta pengguna. Kemudian, angka tersebut bertambah menjadi 25 juta setelah Google+ menjalani waktu sebulan pasca dirilis.

Jumlahnya pun terus bertambah menjadi 40 juta pada Oktober 2011 dan 90 juta pada akhir tahun. Angka yang impresif untuk menunjukkan keseriusannya dalam menantang Facebook.
Walau begitu, hal tersebut memang tidak bisa menjamin apakah penggunannya akan terus menggunakannya atau tidak. Itu juga yang digaris bawahi oleh Mark Zuckerberg saat berkomentar pertama kalinya mengenai Google+.

Saat itu, ia mengatakan bahwa seluruh pesaing Facebook harus membangun grafik yang menggambarkan hubungan secara personal dari masing-masing penggunannya. Media sosial besutannya, yang saat itu sudah memiliki 750 juta, tentunya telah melakukannya.

Google+ Mulai Melambat


Seiring berjalannya waktu, Google+ pun mulai menemui kerikil-kerikil tajam. Kebijakannya yang mengharuskan user untuk menggunakan nama asli menuai kecaman. Selain itu, kurang cakapnya mereka dalam mengurus spam juga mendapat komentar miring.

Selain itu, keputusannya dalam mewajibkan user untuk memiliki akun Google+ ketika hendak bergabung dengan Gmail juga mendapat kritik. Di tengah badai tersebut, Hangouts tampak menuju ke masa depan yang lebih cerah dibanding induknya sendiri, yaitu Google+.

Pada 2013, platform tersebut tampak mulai kehabisan bensin. Engagement user dinilai minim, dan kurang menjamah banyak pihak. Salah satu alasannya adalah, Google+ dianggap bukan sebagai situs yang ingin dikunjungi oleh orang sebagaimana Facebook, namun lebih seperti lapisan dari layanan lain milik Google.

Berbagai usaha pun dilakukan untuk mengangkat platform tersebut. Fitur baru bernama Communities hingga integrasi terhadap Gmail dan Google Contacts pun dimunculkan.

Satu yang paling menarik perhatian adalah, Google mewajibkan pengguna YouTube untuk memiliki akun Google+ jika ingin menulis komentar terhadap video yang ditontonnya. Sekali lagi, tindakannya ini menuai kritik pedas.

Dipreteli Sampai ke Akar


Pada April 2014, Google+ ditinggal oleh pemimpinnya yaitu Vic Gundotra. Tak lama berselang, tepatnya pada Juli 2014, giliran layanan Hangouts yang keluar dan berdiri sendiri.

Satu yang menarik, Google+ menghapus kebijakan yang mengharuskan user untuk menulis nama asli. Mereka pun juga meminta maaf atas lahirnya peraturan tersebut.

Tahun berikutnya, Google+ terus dipreteli setelah fitur berbagi fotonya menjadi produk sendiri dengan nama Google Photos. Keputusan yang tepat karena pada akhir 2015 platform tersebut sudah memiliki 100 juta pengguna aktif bulanan.

Masih di tahun yang sama, Google+ juga tidak lagi diwajibkan bagi user yang ingin menulis komentar di YouTube. Hal serupa juga dilakukan terhadap Android Gaming dan Play Store pada 2016.

Kalender 2017 berlalu begitu saja tanpa ada perubahan berarti sampai akhirnya pada Oktober 2018, Google+ diumumkan resmi ditutup. Sebagaimana disebutkan di atas, minimnya pengguna hingga masalah keamanan jadi alasannya.

Bisa jadi ini adalah keputusan yang tepat dari Google dalam menghentikan Google+. Jika tidak, bukan menutup kemungkinan mereka akan mengalami kasus yang lebih besar seperti Facebook dengan Cambridge Analytica.

Subscribe Our Newsletter